Apakah yang dinamakan merdeka? Soekarno dalam sebuah pidato lahirnya pancasila menjelaskan “merdeka”. Merdeka buat saja ialah: “political indepence, politieke onafhankelijkheid”. Apakah yang dinamakan politik onafhankelijkheid?
Dalam sejarah dunia dan perjalananya, banyak sekali negara-negara yang merdeka. Akan tetapi bandingkanlah kemerdekaan negara-negara itu satu sama lain! Samakah isinya samakah derajatnya negara-negara yang merdeka itu?
Jermania merdeka, Saudi Arabia merdeka, Tiongkok merdeka, Jepang merdeka Amerika merdeka, Inggris merdeka, Rusia merdeka Namanya semua merdeka, tetapi bandingkanlah isinya?
Jika kita lihat lebih dari 80% rakyat Saudi Arabia adalah kaum Badui yang sama sekali tidak mengetahui hal ini dan itu, bahkan membaca dan menulis. Amstrong dalam bukunya menceritakan tentang Ibn Saud, “bahwa tatkala Ibn Saud mendirikan pemerintahan Saudi Arabia, rakyat Arabia sebagian besar belum mengetahui bahwa otomobil memerlukan bahan bakar (bensin). Pada suatu hari otomobil Ibn Saud dikasih makan gandum oleh orang-orang Badui di Saudi Arabia”. Meskipun begitu Saudi Arabia adalah negara yang merdeka!
Contoh lain yang lebih hebat adalah Soviet Rusia, pada masa Lenin mendirikan negara Soviet apakah pada waktu rakyat Rusia sudah cerdas? Mayoritas rakyat Soviet adalah musyrik yang lebih dari 80% tidak dapat membaca dan menulis.
Dalam satu Risalah Soekarno yang bernama “Mencapai Indonesia Merdeka” tahun ’33. Dikatakan bahwa, “kemerdekaan adalah politieke onafhankelijkheid, political independence. Tak lain dan tak bukan ialah satu jembatan emas”. Bahwa diseberang jembatan itulah baru kita sempurnakan kita punya masyarakat.
Amstrong dalam bukunya menceritakan. Ibn Saud mengadakan satu negara di dalam satu malam – in one night only! Ibn Saud mendirikan negara Saudi Arabia di satu malam sesudha ia masuk kota Riadl. Dengan enam orang. Sesudah “Jembatan itu diletakkan oleh Ibn Saud, maka diseberang jembatan. Artinya kemudian dari pa-da itu, barulah Ibn Saud memperbaiki masyarakat Saudi Arabia. Orang yang tidak dapat membaca dan menulis diwajibkan belajar membaca dan menulis, orang yang nomaden yaitu orang Badui di beri tempat dan diajari untuk bercocok tanam. Proses pembelajaran itu semuanya setelah berada di seberang jembatan.
Begitu pula ketika Lenin mendirikan Soviet Rusia Merdeka, tidak semua rakyat Rusia bisa membaca dan menulis dan Rusia belum mempunyahi Station-Radio yang menyundul langit. Baru di seberang jembatan emas yang diadakan oleh Lenin itulah, Rusia baru membuat Station-Radio dan mendirikan sekolahan.
Oleh karena itu janganlah kamu gentar di dalam hati, janganlah mengingat ini dan itu harus selesai lebih dulu dengan njelimet, dan kalau sudah selesai baru kita merdeka.
Meskipun perbedaan antara Negara-negara yang merdeka didalam isinya, akan tetapi ada satu yang sama, yaitu; rakyat Saudi Arabia sanggup memperthankan negaranya, rakyat Rusia pun sanggup mempertahankan negaranya, begitu juga Negara-negara lain yang merdeka. Inilah yang menjadi minimum-eis. Artinya kalau ada kecakapan yang lain tentu lebih baik tetapi manakala sesuatu bangsa telah sanggup mempertahankan negerinya dengan darahnya sendiri, dengan dagingnya sendiri, pada saat itu bangsa itu telah siap untuk kemerdekaan. Kalau bangsa kita, Indonesia, walaupun dengan bambu runcing, semua siap-sedia mati, mempertahankan tanah air kita Indonesia, pada saat itu bangsa Indonesia adalah siap-sedia, siap untuk merdeka.
P.T. Soetardjo menguraikan, tatkala menjawab apakah jang dinamakan merdeka, beliau mengatakan: “kalau tiap-tiap orang di dalam hatinya telah merdeka, itulah kemerdekaan”. Berlainan dengan pendapat Soekarno, “jika tiap-tiap orang Indonesia yang 70 juta ini lebih dulu harus merdeka di dalam hatinya, sebelum kita dapat mencapai political independence, beliau mengatakan, sampai lebur kiamat kita belum dapat merasakan Indonesia merdeka!”
Seperti halnya Saudi Arabia yang Merdeka, Ibn Saud me-merdekakan rakyat Arabia satu persatu. Dan di dalam Soviet-Rusia yang Merdeka Stalin memerdekakan hati bangsa Soviet-Rusia satu persatu. Maka di dalam Indonesia yang Merdeka itulah kita me-merdekakan rakyat kita!! Di dalam Indonesia Merdeka itulah kita memerdekakan hati bangsa kita! Dan di dalam Indonesia Merdeka kita melatih pemuda kita agar supaya menjadi kuat, di dalam Indonesia Merdeka kita menyehatkan rakyat sebaik-baik-nya. Inilah yang disebut dengan “Jembatan Emas”. Di seberang jembatan, jembatan emas, inilah, baru kita leluasa menyusun masyarakat Indonesia merdeka yang gagah, kuat, sehat, kekal dan abadi.
Dalam hukum internasional, Untuk menyusun, mengadakan, mengakui satu negara yang merdeka, tidak diadakan syarat yang neko-neko, yang njelimet. Syaratnya sekedar bumi, rakyat, pemerintah yang teguh! Ini sudah cukup untuk international recht. Cukup, asal ada buminya, ada rakyatnya, ada pemerintahanya, kemudian diakui oleh salah satu negara yang lain, jang merdeka, inilah yang sudah bernama: Merdeka. Tidak peduli rakyat dapat baca atau tidak, tidak peduli rakyat hebat ekonominya atau tidak, tidak peduli rakyat bodoh atau pintar, asal menurut hukum internasional mempunyai syarat-syarat suatu negara merdeka, yaitu ada rakyatnya, ada buminya dan ada pemerintahnya, - su-dahlah ia merdeka.
Janganlah kita gentar, zwaarwichtig, lantas mau menyelesaikan lebih dulu 1001 soal yang bukan-bukan!
Sekali lagi saya bertanya: Mau merdeka apa tidak?
Wednesday, August 18, 2010
Tuesday, August 10, 2010
Marhaban Yaa Ramadhan (Menanti Malam Seribu Bulan)
setahun sudah, tanpa terasa kita lewati.
kini kita di pertemukan lagi dalam indahnya nuansa ramadhan. dimana dalam malam-malam bulan ini terdapat malam yang utama, malam seribu bulan "Lailatul Qadr".
malam yang di tunggu dan diharap-harapkan kedatanganya, dimana semua do'a akan diterim, dimana para malaykat diturunkan ke bumi, dimana pintu rahmat dibukakan bagi mereka yang beriman dan beramal shaleh. maka berbahagialah orang-orang yang dapat mensucikan dirinya dari segala perbuatan yang tercela dan menenggelamkan diri dalam shalat, shalawat, do'a dan dzikir, memperbanyak membaca Al-Qur'an dan memohon ampunan kepada yang Maha Penganpun.
WAKTU DAN TANDA-TANDA KEDATANGAN MALAM LAILATUL QADAR
Dari Ibnu Umar ra, ada beberapa orang sahabat Nabi Saw yang bermimpi bahwa Lailaitul Qadar akan datang pada pada tujuh malam terakhir bulan Ramadhan, Rasulullah SAW bersabda: "Aku juga melihat ru'yah kalian pada tujuh malam terakhir bulan tersebut. Maka barang siapa yang menginginkannya, dapatkanlah malam tersebut pada tujuh malam terakhir"
Seperti halnya kematian, malam Lailatul Qadar juga dirahasikan keberadaannya oleh Allah supaya manusia mempergunakan seluruh waktunya untuk beribadah dan mengingatnya dengan tetap mawas diri setiap saat, selalu berbuat kebaikan dan taat kepada Tuhannya.
"Aku juga melihat Lailatul Qadar dalam mimpi seperti kalian yaitu pada tujuh malam terakhir" (dengan mempergunakan kalimat Tawaata'a). Hadis ini bersinggungan dengan sebuah hadis yang berbunyi: "Seseorang telah melihat malam Lailatul Qadar pada tujuh malam terakhir bulan Ramadhan, maka Nabi bersabda: "Dapatkanlah malam mulia itu, pada tujuh malam terakhir" (Dengan mempergunakan kata Ra'a). Riwayat Muslim menyatakan bahwa Lailatul Qadar jatuh pada tujuh malam terakhir sedang riwayat Bukhari ada yang melihat jatuh pada malam ketujuh dan ada yang melihat sepuluh terakhir.
Karena perbedaan kalimat pada kedua hadis tersebut (dalam riwayat Muslim mempergunakan kalimat Tawata'a sedangkan riwayat Bukhori tidak mempergunakan kalimat tersebut), timbullah perbedaan pendapat di antara para ulama dalam menentukan datangnya malam Lailatul Qadar, ada yang mengatakan pada tujuh malam terakhir dan ada juga yang mengatakan sepuluh malam terakhir. Padahal secara tidak langsung bilangan tujuh masuk ke dalam sepuluh, maka Rasulullah pun menentukan bahwa malam Lailatul Qadar jatuh pada tujuh malam terakhir, karena makna Tawaata'a pada hadis yang diriwayatkan Muslim berarti Tawaafuq (sesuai atau sama.
Sebagian ulama berpendapat bahwa Lailatul Qadar jatuh pada malam dua puluh dua dan paling akhir jatuh pada malam dua puluh delapan, berdasarkan sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Bukhori dari Ibnu Abbas bahwasanya Rasulullah SAW bersabda: "Dapatkanlah Lailatul Qadar pada sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan. Akan tetapi malam Lailatul Qadar sendiri jatuh pada malam ke sembilan, tujuh dan lima Ramadhan (bilangan ganjil).
Dari riwayat hadis yang berbeda lahirlah pendapat para ulama yang beragam (tidak kurang dari empat puluh pendapat). Malam Lailatul Qadar mempunyai ciri dan keistimewaan tersendiri yang tidak dapat kita kenali kecuali setelah berlalunya malam tersebut. Salah satu ciri atau keistimewaan tersebut adalah; terbitnya matahari seperti biasa akan tetapi memancarkan cahaya redup (tidak bersinar terang seperti biasa), berdasarkan sebuah hadis: dari Zur Bin Hubaisy, ia berkata: "Aku mendengar Ubay Bin Ka'ab berkata: "Barang siapa yang bangun di tengah malam selama satu tahun ia akan mendapatkan Lailatul Qadar" Ayahku berkata: "Demi Allah tidak ada Tuhan selain dia, malam itu terdapat di bulan Ramadhan, demi Tuhan aku mengetahuinya, tapi malam manakah itu? Malam dimana Rasulullah memerintahkan kita untuk bangun untuk beribadah. Malam tersebut adalah malam ke dua puluh tujuh, yang ditandai dengan terbitnya matahari berwarna putih bersih tidak bercahaya seperti biasanya".
Diriwayatkan dari Ibnu Khuzaimah dari hadis Ibnu Abbas: "Ketika Lailatul Qadar pergi meninggalkan, bumi tidak terasa dingin, tidak juga panas, dan matahari terlihat berwarna merah pudar" dan dari Hadits Ahmad: "Pada hari itu tidak terasa panas ataupun dingin, dunia sunyi, dan rembulan bersinar" Dari hadis kedua kita dapat menyimpulkan bahwa ciri-ciri tersebut hanya ada pada waktu malam hari.
Malam Lailatul Qadar bukanlah malam yang penuh dengan bintang yang bersinar (sebagaimana diperkirakan orang) akan tetapi Lailatul Qadar adalah malam yang mempunyai tempat khusus di sisi Allah. Dimana setiap Muslim dianjurkan untuk mengisi malam tersebut dengan ibadah dan mendekatkan diri padanya.
Imam Thabari mengatakan: "Tersembunyinya malam Lailatul Qadar sebagai bukti kebohongan orang yang mengatakan bahwa pada malam itu akan datang ke dalam penglihatan kita sesuatu yang tidak akan pernah kita lihat pada malam-malam yang lain sepanjang Tahun, sehingga tidak semua orang yang beribadah sepanjang tahunnya mendapat Lailatul Qadar" Sedangkan Ibnu Munir mengatakan bahwa tidak sepantasnya kita menghukumi setiap orang dengan bohong, karena semua ciri-ciri tersebut bisa dialami oleh sebagian golongan umat, selayaknya karamah yang Allah berikan untuk sebagian hambanya, karena Nabi sendiri tidak pernah membatasi ciri-ciri yang ada, juga tidak pernah menafikan adanya karamah.
Ia meneruskan: Lailatul Qadar tidak selamanya harus diiringi keajaiban atau kejadian-kejadian aneh, karena Allah lebih mulia kedudukannya untuk membuktikan dan memberikan segala sesuatu sesuai dengan kehendaknya. Sehingga ada yang mendapatkan malam Lailatul Qadar hanya dengan beribadah tanpa melihat adanya keanehan, dan ada sebagian lain yang melihat keanehan tanpa di sertai ibadah, maka penyertaan ibadah tanpa disertai keanehan kedudukannya akan lebih utama di sisi Tuhan.
Ada sebagian pendapat yang mengatakan bahwa salah satu ciri datangnya malam Lailatul Qadar adalah melihat segala sesuatu yang ada di bumi ini tertunduk dan sujud ke hadirat-Nya. Sebagian lain mengatakan pada malam itu dunia terang benderang, dimana kita dapat melihat cahaya dimana-mana sampai ke tempat-tempat yang biasanya gelap. Ada juga yang mengatakan orang yang mendapatkan malam Lailatul Qadar dapat mendengar salam dan khutbahnya malaikat, bahkan ada yang mengatakan bahwa salah satu ciri tersebut adalah dikabulkannya do'a orang yang telah diberikannya taufik.
Lailatul Qadar adalah hadiah yang Tuhan berikan untuk hambanya yang Mukmin, dan hanya orang memperbanyak taubat, dzikir dan do'a lah yang akan mendapatkannya.
Semoga kita termasuk diantara orang mukmin yang berbahagia tersebut. Amiiin....
kini kita di pertemukan lagi dalam indahnya nuansa ramadhan. dimana dalam malam-malam bulan ini terdapat malam yang utama, malam seribu bulan "Lailatul Qadr".
malam yang di tunggu dan diharap-harapkan kedatanganya, dimana semua do'a akan diterim, dimana para malaykat diturunkan ke bumi, dimana pintu rahmat dibukakan bagi mereka yang beriman dan beramal shaleh. maka berbahagialah orang-orang yang dapat mensucikan dirinya dari segala perbuatan yang tercela dan menenggelamkan diri dalam shalat, shalawat, do'a dan dzikir, memperbanyak membaca Al-Qur'an dan memohon ampunan kepada yang Maha Penganpun.
WAKTU DAN TANDA-TANDA KEDATANGAN MALAM LAILATUL QADAR
Dari Ibnu Umar ra, ada beberapa orang sahabat Nabi Saw yang bermimpi bahwa Lailaitul Qadar akan datang pada pada tujuh malam terakhir bulan Ramadhan, Rasulullah SAW bersabda: "Aku juga melihat ru'yah kalian pada tujuh malam terakhir bulan tersebut. Maka barang siapa yang menginginkannya, dapatkanlah malam tersebut pada tujuh malam terakhir"
Seperti halnya kematian, malam Lailatul Qadar juga dirahasikan keberadaannya oleh Allah supaya manusia mempergunakan seluruh waktunya untuk beribadah dan mengingatnya dengan tetap mawas diri setiap saat, selalu berbuat kebaikan dan taat kepada Tuhannya.
"Aku juga melihat Lailatul Qadar dalam mimpi seperti kalian yaitu pada tujuh malam terakhir" (dengan mempergunakan kalimat Tawaata'a). Hadis ini bersinggungan dengan sebuah hadis yang berbunyi: "Seseorang telah melihat malam Lailatul Qadar pada tujuh malam terakhir bulan Ramadhan, maka Nabi bersabda: "Dapatkanlah malam mulia itu, pada tujuh malam terakhir" (Dengan mempergunakan kata Ra'a). Riwayat Muslim menyatakan bahwa Lailatul Qadar jatuh pada tujuh malam terakhir sedang riwayat Bukhari ada yang melihat jatuh pada malam ketujuh dan ada yang melihat sepuluh terakhir.
Karena perbedaan kalimat pada kedua hadis tersebut (dalam riwayat Muslim mempergunakan kalimat Tawata'a sedangkan riwayat Bukhori tidak mempergunakan kalimat tersebut), timbullah perbedaan pendapat di antara para ulama dalam menentukan datangnya malam Lailatul Qadar, ada yang mengatakan pada tujuh malam terakhir dan ada juga yang mengatakan sepuluh malam terakhir. Padahal secara tidak langsung bilangan tujuh masuk ke dalam sepuluh, maka Rasulullah pun menentukan bahwa malam Lailatul Qadar jatuh pada tujuh malam terakhir, karena makna Tawaata'a pada hadis yang diriwayatkan Muslim berarti Tawaafuq (sesuai atau sama.
Sebagian ulama berpendapat bahwa Lailatul Qadar jatuh pada malam dua puluh dua dan paling akhir jatuh pada malam dua puluh delapan, berdasarkan sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Bukhori dari Ibnu Abbas bahwasanya Rasulullah SAW bersabda: "Dapatkanlah Lailatul Qadar pada sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan. Akan tetapi malam Lailatul Qadar sendiri jatuh pada malam ke sembilan, tujuh dan lima Ramadhan (bilangan ganjil).
Dari riwayat hadis yang berbeda lahirlah pendapat para ulama yang beragam (tidak kurang dari empat puluh pendapat). Malam Lailatul Qadar mempunyai ciri dan keistimewaan tersendiri yang tidak dapat kita kenali kecuali setelah berlalunya malam tersebut. Salah satu ciri atau keistimewaan tersebut adalah; terbitnya matahari seperti biasa akan tetapi memancarkan cahaya redup (tidak bersinar terang seperti biasa), berdasarkan sebuah hadis: dari Zur Bin Hubaisy, ia berkata: "Aku mendengar Ubay Bin Ka'ab berkata: "Barang siapa yang bangun di tengah malam selama satu tahun ia akan mendapatkan Lailatul Qadar" Ayahku berkata: "Demi Allah tidak ada Tuhan selain dia, malam itu terdapat di bulan Ramadhan, demi Tuhan aku mengetahuinya, tapi malam manakah itu? Malam dimana Rasulullah memerintahkan kita untuk bangun untuk beribadah. Malam tersebut adalah malam ke dua puluh tujuh, yang ditandai dengan terbitnya matahari berwarna putih bersih tidak bercahaya seperti biasanya".
Diriwayatkan dari Ibnu Khuzaimah dari hadis Ibnu Abbas: "Ketika Lailatul Qadar pergi meninggalkan, bumi tidak terasa dingin, tidak juga panas, dan matahari terlihat berwarna merah pudar" dan dari Hadits Ahmad: "Pada hari itu tidak terasa panas ataupun dingin, dunia sunyi, dan rembulan bersinar" Dari hadis kedua kita dapat menyimpulkan bahwa ciri-ciri tersebut hanya ada pada waktu malam hari.
Malam Lailatul Qadar bukanlah malam yang penuh dengan bintang yang bersinar (sebagaimana diperkirakan orang) akan tetapi Lailatul Qadar adalah malam yang mempunyai tempat khusus di sisi Allah. Dimana setiap Muslim dianjurkan untuk mengisi malam tersebut dengan ibadah dan mendekatkan diri padanya.
Imam Thabari mengatakan: "Tersembunyinya malam Lailatul Qadar sebagai bukti kebohongan orang yang mengatakan bahwa pada malam itu akan datang ke dalam penglihatan kita sesuatu yang tidak akan pernah kita lihat pada malam-malam yang lain sepanjang Tahun, sehingga tidak semua orang yang beribadah sepanjang tahunnya mendapat Lailatul Qadar" Sedangkan Ibnu Munir mengatakan bahwa tidak sepantasnya kita menghukumi setiap orang dengan bohong, karena semua ciri-ciri tersebut bisa dialami oleh sebagian golongan umat, selayaknya karamah yang Allah berikan untuk sebagian hambanya, karena Nabi sendiri tidak pernah membatasi ciri-ciri yang ada, juga tidak pernah menafikan adanya karamah.
Ia meneruskan: Lailatul Qadar tidak selamanya harus diiringi keajaiban atau kejadian-kejadian aneh, karena Allah lebih mulia kedudukannya untuk membuktikan dan memberikan segala sesuatu sesuai dengan kehendaknya. Sehingga ada yang mendapatkan malam Lailatul Qadar hanya dengan beribadah tanpa melihat adanya keanehan, dan ada sebagian lain yang melihat keanehan tanpa di sertai ibadah, maka penyertaan ibadah tanpa disertai keanehan kedudukannya akan lebih utama di sisi Tuhan.
Ada sebagian pendapat yang mengatakan bahwa salah satu ciri datangnya malam Lailatul Qadar adalah melihat segala sesuatu yang ada di bumi ini tertunduk dan sujud ke hadirat-Nya. Sebagian lain mengatakan pada malam itu dunia terang benderang, dimana kita dapat melihat cahaya dimana-mana sampai ke tempat-tempat yang biasanya gelap. Ada juga yang mengatakan orang yang mendapatkan malam Lailatul Qadar dapat mendengar salam dan khutbahnya malaikat, bahkan ada yang mengatakan bahwa salah satu ciri tersebut adalah dikabulkannya do'a orang yang telah diberikannya taufik.
Lailatul Qadar adalah hadiah yang Tuhan berikan untuk hambanya yang Mukmin, dan hanya orang memperbanyak taubat, dzikir dan do'a lah yang akan mendapatkannya.
Semoga kita termasuk diantara orang mukmin yang berbahagia tersebut. Amiiin....
Subscribe to:
Posts (Atom)
daftar isi
Blog Archive
-
►
2013
(5)
- ► 04/14 - 04/21 (4)
- ► 04/07 - 04/14 (1)
-
►
2012
(3)
- ► 11/25 - 12/02 (1)
- ► 03/18 - 03/25 (1)
- ► 02/05 - 02/12 (1)
-
►
2011
(10)
- ► 11/20 - 11/27 (1)
- ► 11/13 - 11/20 (1)
- ► 11/06 - 11/13 (1)
- ► 10/30 - 11/06 (1)
- ► 10/23 - 10/30 (1)
- ► 10/16 - 10/23 (1)
- ► 10/02 - 10/09 (1)
- ► 04/10 - 04/17 (1)
- ► 03/06 - 03/13 (1)
- ► 01/30 - 02/06 (1)
-
►
2010
(7)
- ► 08/15 - 08/22 (1)
- ► 08/08 - 08/15 (2)
- ► 06/20 - 06/27 (1)
- ► 06/06 - 06/13 (2)
- ► 05/30 - 06/06 (1)